Minggu, 12 Oktober 2014

Feel

Semua orang akan meninggalkan ku perlahan-lahan. Semuanya jadi kabur dan semu. Aku tak mengerti dengan semua keadaan ini. Hal ini semakin sakit. Pergi semua dan menghindar. Aku rela dan aku pasrah.
Aku layak di sebut sebagai sampah semua orang. Aku tak berguna buat siapapun. Aku ini sampah yaa sampah. Aku memang bodoh di mata kalian semua. Seperti boneka yang di mainkan anak-anak. Aku memang tidak layak untuk dipertahankan ataupun diperjuangkan. Karena aku merasa sudah tidak pantas, buat apa aku berharap.
Tak ada semangat tak ada senyum. Baik di awal tapi pada akhirnya tertinggal di tempat sampah.
Lebih baik kau buang aku sekarang daripada aku harus merasakan pahitnya seperti ini.
Tetapi disisi lain aku ingin semangat lagi untuk memperjuangkan semua ini tapi apadaya. Aku capek aku lelah. Seluruh tubuhku mulai mengering ditambah dengan semua penyakitku. Aku memikirkan banyak hal tetapi itu semua tak dapat di cari jalan keluarnya dan akhirnya terpendam dalam hati ini.
Hai masalah besar. Pergilah dari hidupku. Aku punya Allah Yang Maha Besar yang akan membinasakan kamu.

Ingin

Aku ingin dituntun bukan menuntun. Aku ingin didewasakan bukan mendewasakan. Aku ingin dilindungi bukan melindungi. Aku ingin di sadarkan secara halus bukan di bentak. Aku ingin di bedakan bukan disamakan.
Aku yaa aku dia yaa dia dan mereka yaa mereka.

Menyerah

Aku muak sama sikap kamu. Aku capek aku lelah.
Terserah saja aku menyerah.

Menyerah

Aku muak sama sikap kamu. Aku capek aku lelah.
Terserah saja aku menyerah.

Kamis, 02 Oktober 2014

Ceritaku

Sedih ketika aku harus meresakan pahitnya kehidupan ini. Dimana aku harus menahan semua sakitku. Tak ada yang bisa mengerti. Hanya aku saja yang mengerti. aku lelah terus mengingatkan. Aku capek harus meluapkan emosiku tetapi tak pernah dilembutkan. Aku capek dengan semua ini. Mulutku mulai diam dan hanya air mataku saja yang berbicara. Mulutku mulai bosan tapi walau pun air mataku ini mulai bosan dengan mata membengkak tetapi masih setia menangisi kesakitanku ini. Betapa berharganya.
Sakit ketika tangisku tidak kau gubris. Hanya bisa menangis menangis dan bersujud. Aku lelah sayaang aku lelah...
Aku mulai tak memikirkan diriku ataupun dirimu. Aku mulai masa bodoh yaa karena ulahmu sendiri. Aku memang tak sempurna buatmu yang selalu memenuhimu atas pintamu yang kanak-kanak. Aku paham niatmu tapi pahami aku juga. Bersikap dewasalah untukku. Aku butuh sosok dewasamu.
Semoga kamu paham juga. Tapi kau tetap jadi dirimu sendiri hanya sedikit dirubah pola pikirmu.